Aku terlalu naif.
Hinggga semua teraduk satu, tak nampak lagi sisi hitam yang terjulur mengintai pada rona putih sisi hidup mu. Terajut polos dalam kekejaman yang luluh tersembunyi.
Dan pada putaran di ujung jalan yang hendak kembali ku tapaki. Sesuatu tanya memaksa ku, seperti itukah makna dari gerombolan rasa yang ku panen untuk mu. Aku mencintai rasa manis yang membongkah dalam balutan mimpi yang menjulang.
Tapi nyatanya,..
Aku hanya wanita jalang bagi mu. Yang kau datangi dibalik kekakuan simpangan hari berisi peluh kebosanan.
Oh Tuhan, kenapa semua nampak begitu gemerlap? Hingga batas sadar ku buta.
Aku mencintainya utuh dengan kesangatan. Dan mengecup semua setting palsunya beningnya tulus.
Ini hanya sebuah permainan, yang digerakkannya demi tawa dan kepuasan.
Sedangkan cinta yang ku anggap terbingkis untuk ku, hanya bias.
Kau yang telah termiliki.
Memelukku dalam palsu, mencumbui cinta yang dalam hanya untuk kesenangan.
Kau tak mencintai ku dengan sebenar-benarnya cinta.
Tapi rasa untukmu telah mendoktrin hebat dalam batuan rasa ku.
Aku mencintai mu.
Dalam teriakan jiwa yang berharap kau kasihani.
Aku sudah mencintai mu segila-gilanya.
Meski tak terpungkiri sakit itu mengerat kuat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar